Senin, 29 November 2021
Judul : Pelatihan Guru Motivator Literasi Digital (GMLD)
Grup : 4
Resume ke : 13
Tema : Berbincang dengan Hoaks, Media Sosial dan Dunia Digital.
Narasumber : Aam Nurhasanah
Moderator : Dail Ma'ruf
Hoaks.. oh hoaks..kehadirannya sungguh tidak diharapkan, karena biasanya manis, eh ternyata bohongan..biasanya menjanjikan asa, eh di php-in. Nyebelin kan?
Adakah yang pernah kena hoaks? Atau mungkin tak sengaja pernah jadi pelaku hoaks? Tahu, apa yang harus kita lakukan saat hoaks menyapa? Narasumber kali ini, membahas tema tersebut dengan cukup menggelitik.
Semoga kita dijauhkan dari perilaku di-hoaks-in atau meng- hoaks-kan tersebut ya, karena hoaks jarang sekali yang membawa kebahagiaan.. kenapa disebut jarang? Karena memang hanya sedikit jumlahnya. Dan saya beruntung, pernah menyaksikan salah satu dari sedikit hoaks yang menghibur. Itu terjadi saat narasumber menyajikan tayangan mengenai info penyanyi legendaris yang kabarnya memiliki kembaran..dan ternyata sang kembaran adalah narasumber kali ini. Saya terkekeh-kekeh melihat tayangan tersebut...
Kembali ke bahasan awal, hoaks adalah berita bohong atau berita yang sesungguhnya harus diverifikasi kebenarannya. Jangan langsung percaya dan meng-share jika infonya belum valid.
Seiring perkembangan zaman, media sosial dan dunia digital adalah makanan empuk untuk menyebarkan hoax.
Sekarang, banyak orang yang justru ahli menyalah gunakan medsos untuk kepentingan yang tidak bertanggung jawab. Miris sekali ya.
Apa trik agar kita tidak terjerat perangkat hoax di media sosial?
Intinya adalah menggunakan medsos dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat.
Lalu bagaimana cara mengetahui/mengenali kalau berita yang kita terima tersebut adalah hoaks?
Ciri-ciri hoax bisa dikenali, diantaranya:
1. Menciptakan kecemasan, kebencian, permusuhan.
2. Sumber tidak jelas dan tidak ada yang bisa dimintai tanggung jawab atau klarifikasi.
3. Pesan sepihak, menyerang, dan tidak netral atau berat sebelah.
4. Mencatut nama tokoh berpengaruh atau pakai nama mirip media terkenal.
5. Memanfaatkan fanatisme atas nama ideologi, agama, suara rakyat.
6. Judul dan pengantarnya provokatif dan tidak cocok dengan isinya.
7. Memberi penjulukan.
8. Minta supaya di-share atau diviralkan.
9. Menggunakan argumen dan data yang sangat teknis supaya terlihat ilmiah dan dipercaya.
10. Artikel yang ditulis biasanya menyembunyikan fakta dan data serta memelintir pernyataan narasumbernya.
11. Berita ini biasanya ditulis oleh media abal-abal, di mana alamat media dan penanggung jawab tidak jelas.
12. Memanipulasi foto dan keterangannya. Foto-foto yang digunakan biasanya sudah lama dan berasal dari kejadian di tempat lain dan keterangannya juga dimanipulasi.
Narasumber menambahkan, apabila ada yang menyebarkan hoak di grup, yang perlu dilakukan adalah kita memberi tahu bahwa itu hoaks dan jangan diteruskan ke orang lain. Takutnya, orang yang menerima pesan karena ketidak tahuannya akan meneruskan pesan tersebut ke pihak lain. Jadi kita wajib saling mengingatkan.
Namun, jika saya kebetulan sebagai admin, orangnya tidak dikenal dan mencurigakan, biasanya langsung saya keluarkan, imbuhnya.
Dari paparan narasumber, dapat kita simpulkan, bahwa kita harus lebih cakap dan cerdas di era digital ini. Membagikan ilmu yang memotivasi, menebar energi positif, dan menginspirasi, itu jauh lebih bijak dan mulia, bukan? Setuju?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar