Rabu, 02 Februari 2022

Pengembangan Kualitas Hidup Melalui Program Literasi Digital

 Rabu, 15 Desember 2021

Judul : Pelatihan Guru Motivator Literasi Digital (GMLD)

Grup : 4

Resume ke : 20

Tema : Pengembangan Kualitas Hidup Melalui Program Literasi Digital

Narasumber : Mr. Bams

Moderator : Muliadi




"Materi terakhir ini sebenarnya bagi saya sangat berat. Kenapa? Wong...saya harus bicara tentang Kualitas Hidup. Itu rasanya mengawang-ngawang buat saya. Tapi saya sore hari ini berbagi pengalaman saja ya." ungkap narasumber.

 Kalau mendengar kalimat kualitas hidup, tentunya harus ada standar. Bagaimana kualitas hidup kita, setiap orang pasti akan berbeda-beda.
 Pengalaman saya dengan pemanfaatan literasi digital inilah yang akan saya bagikan kepada bapak ibu semua. Bagaimana ternyata saat kita memanfaatkan teknologi ini untuk terus belajar, berkarya, berbagi dan berbakti sebagai guru dan manusia yang mulia.
 Saya ingin membagikan dari pengalaman yang saya rasakan, saat ini saya mengelola :
1. Facebook *Bambang Ayah Salwa*
2. Instagram *@ayahnasalwa*
3. Website *penamrbams.id*
4. Blog *guruMAU.my.id*
5. Chanel Youtube *Pena Mr. Bams*
Tentunya pemateri sebelumnya sudah membahas materi yang berkaitan dengan Kecakapan Digital. Saya masih ingat pesan Presiden Joko Widodo, silahkan banjiri dunia internet dengan konten-konten yang baik. Lawan konten yang tidak baik dengan konten positif yang bisa kita buat terus menerus sehingga bisa menyaingi konten yang tidak baik.






Ini adalah contoh saat saya menggunakan kata kunci "Mr. Bams" di mesin pencari google, kemudian pilih gambar maka hasilnya adalah seperti gambar diatas. Ini karena saya terus menerus membanjiri media sosial, webiste, blog, youtube. Maka hasilnya bisa seperti sekarang.

 Saat memiliki karya dengan "Kalimat Bahagia Mr. Bams" saya posting di IG @ayahnasalwa, kemudian saya juga posting di website "penamrbams.id", maka google yang baik hati akan memberitakan tempat yang layak untuk sebuah karya. Maka teruslah kita berkarya, dan berkarya sampai kapan pun.

 Semakin kita mengasah kemampuan kita, maka kepercayaan untuk mengembangkan diri akan datang.  Saat kita mengembangkan diri terus menerus, jangan heran, kesempatan akan datang bahkan prestasi bisa diraih.

Narasumber menambahkan bahwa setiap guru wajib memiliki  branding personal. Kenapa ? Ya, karena kita guru. Guru harus bisa memberitakan bahwa keberadaan guru itu harus dirasakan manfaatnya, dimana pun berada. Di sekolah, masyarakat, lembaga, organisasi dan keluarga.

Nah apa hubungannya dengan peningkatan/pengembangan Kualitas Hidup ?

 Terkait dengan peningkatan kualitas hidup, manfaatkan tekonologi yang ada sebagai jalan untuk berlomba-lomba membuat kebaikan dimana pun berada, serta saling memberikan semangat dalam hidup ini. Jadikan alat-alat yang ada di depan mata kita sebagai alat yang bisa dikendalikan agar hidup semakin baik.

Kesibukan kita saat ini terkadang menjadi alasan untuk berhenti berbuat, hal tersebut manusiawi. Namun, kita bisa berusaha meminimalisir hal tersebut dengan memanfaatkan waktu  dan sumber daya dengan sebaik-baiknya serta menggunakan skala prioritas.

Misalnya, saat melakukan suatu hal, kita dapat melakukan hal lain secara bersamaan. Tentunya kegiatan pertama dipastikan memang benar-benar dapat disambil, atau memanfaatkan waktu kosong. Sehingga dalam waktu relatif bersamaan, ada dua atau bahkan lebih, pekerjaan yang terselesaikan. 

Saat Allah SWT, Tuhan YME masih memberikan kesempatan dalam hidup ini, maka manfaatkan untuk belajar, berkarya, berbagi dan berbakti terus menerus. karena itulah yang membuat seseorang dikatakan sukses.

Mari kita serbu dengan konten kebaikan dan kebaikan, pungkasnya. Mengena sekali ya..



ANAK MUDA BERANI BIKIN PERUBAHAN DI DUNIA DIGITAL

 

Senin, 22 Nopember 2021

Judul               : Pelatihan Guru Motivator Literasi Digital (GMLD)

Grup               : 4

Resume ke     :10

Tema             : Anak Muda Berani Bikin Perubahan di Dunia Digital

Nara Sumber : Rosminiyati

Moderator     : Muliadi

 

 



Ibu Rosminiyati tak hanya sebagai nara sumber pada pertemuan ini, tetapi juga salah satu insiprasi saya untuk maju menggali potensi. Saya belum berjumpa secara langsung, namun mendengar dari kawan yang lebih mengenal beliau dari tahun 2006, saya menemukan orang yang benar-benar mendorong orang di sekitarnya untuk maju, berani melangkah dan mempunyai tekad yang kuat untuk berani membuat perubahan dalam hal positif salah satunya melalui dunia digital.

Terdapat 2 kata kunci yang menjadi pedoman pembahasan kita, BERANI dan PERUBAHAN. Dua kata yang tidak bisa dipisahkan ketika suatu langkah diciptakan.

Berani, berdasarkan KBBI V online diartikan “mempunyai hati yang mantap dan rasa percaya diri yang besar dalam menghadapi bahaya, kesulitan, dan sebagainya; tidak takut (gentar, kecut).

Perubahan adalah hal (keadaan) berubah; peralihan; pertukaran. (KBBI V online). Tentu saja, dalam hal ini adalah perubahan dari keadaan semula menjadi lebih baik dari pada sebelumnya.

 

Mengapa perlu melakukan perubahan di dunia digital?

1. Kebutuhan. Misalnya dalam pendidikan, mulai dari urusan administrasi sampai pembelajaran sudah menggunakan fasilitas yang ditawarkan di dunia digital. Hal ini mengakibatkan, mau tidak mau, perubahan kearah digitalisasi menjadi suatu kebutuhan.

2.    Menyalurkan hobi. 

3.    Tambahan penghasilan. 

4.    Berbagi.

 Hal-Hal yang mempengaruhi Perubahan di Dunia Digital

👉 Tekad/semangat.

      ðŸ‘‰ Lingkungan.

            ðŸ‘‰ Sarana/Prasarana.

                   👉 Kesempatan.

                           👉 Dukungan.

Sebagai motivator bagi anak muda (murid-murid, anak-anak), kita harus bisa menggerakkan orang lain agar mau berubah, tentunya kita sudah harus menggerakkan diri kita sendiri untuk berubah. Mengapa? Karena kita adalah guru dan orang tua yang menjadi model bagi murid-murid dan anak-anak kita.

Terkait perubahan, masing-masing kita tentu saja berbeda. Perubahan untuk masing-masing kita disesuaikan dengan kondisi awal yang kita punya.

Bentuk/Jenis Perubahan di Dunia Digital:

1.    Tidak bisa -> bisa;
2.    Tidak berani -> berani;
3.    Sudah bisa -> banyak/terampil;
4.    Banyak -> berkualitas;
5.    Sendiri -> kolaborasi;
6.    Sederhana/biasa -> istimewa/unik/menarik;
7.    Tidak berguna -> bermanfaat;
8.    Untuk sendiri -> berbagi/inspiratif/memotivasi;
9.    Dan lain-lain.

Gerakan perubahan di dunia digital dapat dilakukan dengan berbagai hal, diantaranya:



Dari gerakan perubahan diatas, kita tidak akan tahu kita sanggup atau tidak dalam sebuah perubahan, jika kita tidak MULAI menapakkan kaki di anak tangga pertama atau langkah pertama.

Kita sebagai orang tua atau guru harus mampu memotivasi siswa atau anak-anak untuk segera MULAI pemahaman mereka, bagaimana penggunaan media digital yang akan membawa kebaikan pada mereka dengan mengalihkan kepada kegiatan lain yang jauh lebih bermanfaat.

Bagaimana caranya?

1.    Kolaborasi. Kita berada pada komunitas sekolah yang luas. Anak-anak didik kita jumlahnya banyak. Kita tidak mungkin bisa melakukannya sendiri. Oleh karena itu, perlu dibangun kolaborasi di antara sesama guru.

2.    Melakukan sosialisai tentang literasi digital. Kita bisa menggunakan materi yang sudah kita peroleh dari pelatihan GMLD ini, misalnya ketika pertemuan langsung/tatap muka di dalam ruangan kelas atau pada saat upacara atau waktu khusus.

3.    Memfasilitasi siswa kita melakukan hal-hal positif dalam dunia digital.
•    Membuat komunitas di sekolah, misalnya: komunitas bloger sekolah, komunitas YouTuber sekolah, dll.

4.    Memotivasi siswa dengan cara mengadakan perlombaan dan memberikan hadiah atau penghargaan.

Selasa, 25 Januari 2022

Berbincang dengan Hoaks, Media Sosial dan Dunia Digital

 Senin, 29 November 2021

Judul : Pelatihan Guru Motivator Literasi Digital (GMLD)

Grup : 4

Resume ke : 13

Tema : Berbincang dengan Hoaks, Media Sosial dan Dunia Digital.

Narasumber : Aam Nurhasanah

Moderator : Dail Ma'ruf


 Hoaks.. oh hoaks..kehadirannya sungguh  tidak diharapkan, karena biasanya manis, eh ternyata bohongan..biasanya menjanjikan asa, eh di php-in. Nyebelin kan?

Adakah yang pernah kena hoaks? Atau mungkin tak sengaja pernah jadi pelaku hoaks? Tahu, apa yang harus kita lakukan saat hoaks menyapa? Narasumber kali ini, membahas tema tersebut dengan cukup menggelitik.

Semoga kita dijauhkan dari perilaku di-hoaks-in atau meng- hoaks-kan tersebut ya, karena hoaks jarang sekali yang membawa kebahagiaan.. kenapa disebut jarang? Karena memang hanya sedikit jumlahnya. Dan saya beruntung, pernah menyaksikan salah satu dari sedikit hoaks yang menghibur. Itu terjadi saat narasumber menyajikan tayangan mengenai info penyanyi legendaris yang kabarnya memiliki kembaran..dan ternyata sang kembaran adalah narasumber kali ini.  Saya terkekeh-kekeh melihat tayangan tersebut...

Kembali ke bahasan awal,  hoaks adalah berita bohong atau berita yang sesungguhnya harus diverifikasi kebenarannya. Jangan langsung percaya dan meng-share jika infonya belum valid.

Seiring perkembangan zaman, media sosial dan dunia digital adalah makanan empuk untuk menyebarkan hoax.

Sekarang, banyak orang yang justru ahli menyalah gunakan medsos untuk kepentingan yang tidak bertanggung jawab. Miris sekali ya.

Apa trik agar kita tidak terjerat perangkat hoax di media sosial? 

Intinya adalah menggunakan medsos dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat. 

Lalu bagaimana cara mengetahui/mengenali kalau berita yang kita terima tersebut adalah hoaks?

Ciri-ciri hoax bisa dikenali, diantaranya: 

1. Menciptakan kecemasan, kebencian, permusuhan.

2. Sumber tidak jelas dan tidak ada yang bisa dimintai tanggung jawab atau klarifikasi.

3. Pesan sepihak, menyerang, dan tidak netral atau berat sebelah.

4. Mencatut nama tokoh berpengaruh atau pakai nama mirip media terkenal.

5. Memanfaatkan fanatisme atas nama ideologi, agama, suara rakyat.

6. Judul dan pengantarnya provokatif dan tidak cocok dengan isinya.

7. Memberi penjulukan.

8. Minta supaya di-share atau diviralkan.

9. Menggunakan argumen dan data yang sangat teknis supaya terlihat ilmiah dan dipercaya.

10. Artikel yang ditulis biasanya menyembunyikan fakta dan data serta memelintir pernyataan narasumbernya.

11. Berita ini biasanya ditulis oleh media abal-abal, di mana alamat media dan penanggung jawab tidak jelas.

12. Memanipulasi foto dan keterangannya. Foto-foto yang digunakan biasanya sudah lama dan berasal dari kejadian di tempat lain dan keterangannya juga dimanipulasi.

Narasumber menambahkan, apabila ada yang menyebarkan hoak di grup, yang perlu dilakukan adalah kita memberi tahu bahwa itu hoaks dan jangan diteruskan ke orang lain. Takutnya, orang yang menerima pesan karena ketidak tahuannya akan meneruskan pesan tersebut ke pihak lain. Jadi kita wajib saling mengingatkan.

 Namun, jika saya kebetulan sebagai admin,  orangnya tidak dikenal dan mencurigakan, biasanya langsung saya keluarkan, imbuhnya.

Dari paparan narasumber, dapat kita simpulkan, bahwa kita harus lebih cakap dan cerdas di era digital ini.  Membagikan ilmu yang memotivasi, menebar energi positif, dan menginspirasi, itu jauh  lebih bijak dan mulia, bukan?  Setuju? 


Jumat, 21 Januari 2022

Era Teknologi Bebas Namun Tanggungjawab

Senin, 13 Desember 2021

Judul               : Pelatihan Guru Motivator Literasi Digital (GMLD)

Grup               : 4

Resume ke     : 19

Tema             : Era Teknologi Bebas Namun Tanggungjawab

Nara Sumber : Rifatun

Moderator     : Rosminiyati


                                       


Kak Ros sebagai moderator pada pertemuan ini membuka acara dengan menyapa hangat peserta dan menjelaskan agenda pertemuan.

Selanjutnya, beliau mengingkatkan kami kembali mengenai syarat memperoleh sertifikat LULUS dalam Pelatihan GMLD, sebagai berikut:
1. Minimal mengikuti 16 materi dari 20 materi yang diberikan di kelas Guru Motivator Literasi Digital (GMLD) yang dibuktikan dengan daftar hadir yang tersedia di deskripsi grup WA GMLD.
2. Menulis resume di blog pribadi minimal 16 resume materi yang diberikan narasumber dari 20 materi yang dibuktikan dengan mengisi form pengumpulan resume.
3.  Menulis minimal 1buku antologi yang dibuktikan dengan namanya tercantum pada daftar penulis buku tersebut (peserta akan mendapatkan sertifikat penulis dari penerbit).

Penjelasan kak Ros ini menyadarkan kami bahwa sekarang kami sudah diujung perjalanan pelatihan GMLD, pertemuan ke 19. Kami harus flashback lagi dengan tugas-tugas yang harus kami selesaikan agar lulus. Sayangkan jika sudah mengikuti, namun terhenti begitu saja.

Pada pertemuan ini, kak Ros menjadi moderator dari narasumber luar biasa yang tidak muda lagi tetapi semangat belajarnya luar biasa, dengan segudang pengalaman dan prestasi, juga berdedikasi tinggi dalam kegiatan belajar PGRI. Beliau adalah Bu Rifatun.

Narasumber menyapa peserta dengan ramah, kemudian menyampaikan materi yang diawali dengan pertanyaan "apakah yang dimaksud dengan Era Teknologi?"

Dengan aktifnya peserta menjawab, diantaranya:

👉Era digital adalah suatu zaman dimana kegiatan atau aktivitas di lakukan dengan menggunakan media digital

👉Jaman yang serba digital ,contoh kita bisa berada taksi dengan ada aplikasi online,bagi guru yang sudah mempunyai dan menguasai laptop , HP bisa menggunakannya dengan maksimal , mengikuti tuntunan zaman moderen, zaman 4.0

Setelah mengapresiasi jawaban peserta, narasumber menghadiahkan salah satu peserta dengan jawaban terbaik sebuah buku karya beliau.

Kemudian beliau melanjutkan penjelasannya bahwa teknologi dari tahun ke tahun mengalami perkembangan. Perkembangan teknologi terbaru, termasuk di antaranya mesin cetak, telepon, dan Internet, telah memperkecil hambatan fisik terhadap komunikasi dan memungkinkan manusia untuk berinteraksi secara bebas dalam skala global.

Teknologi telah memengaruhi masyarakat dan sekeliling kita. Berbagai macam penerapan teknologi telah memengaruhi nilai suatu masyarakat dan teknologi baru sering kali mencuatkan pertanyaan-pertanyaan etika baru. Sebagai contoh: meluasnya gagasan tentang efisiensi dalam konteks produktivitas manusia, suatu istilah yang pada awalnya hanya menyangkut permesinan. Dengan adanya teknologi kita bebas menggunakannya. Bagaimana cara kita menggunakan teknologi yang bebas ini ?

Kembali narasumber mengajukan pertanyaan ini kepada peserta. Dari respon peserta dapat disimpulkan bahwa menggunakan teknologi haruslah dengan bijak, smart, disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan seperti seorang guru yang menggunakan infokus pada saat mengajar, agar materi yg begitu luas dapat terjangkau semua siswa dan membuat pembelajaran menjadi menarik. Hal lain yang juga tidak kalah penting dalam menggunakan teknologi adalah menghindari dampak negatif dari teknologi dan harus bertanggungjawab.

Narasumber  juga menambahkan beberapa pemanfaatan teknologi dalam dunia pendidikan  antara lain:

1.    Membantu untuk mengelola prioritas

2.    Komunikasi yang lebih baik

3.    Menggunakan cara yang berbeda untuk pendidikan

4.    Memanfaatkan teknologi tepat waktu

Selain 4 cara diatas, pemanfaatan teknologi bagi siswa membuat kegiatan belajar  menjadi lebih mudah, seperti:
1.    Kamus online untuk mempelajari bahasa asing
2.    Menonton video pembelajaran di situs video sharing
3.    Memakai aplikasi untuk penunjang kegiatan belajar
4.    Manfaatkan website penyedia materi pelajaran
5.    Gunakan fitur yang ada di smartphone

Berkaitan dengan penggunaan teknologi yang bebas namun bertangung jawab maksudnya kita mempunyai kesempatan seluas-luasnya untuk memanfaatkan teknologi untuk kepentingan kita misalnya sebagai seorang guru kita bisa bebas mencari bahan ajar untuk kita ajarkan kepada anak didik kita. Bentuk bertanggung jawab dari kita adalah tidak menggunakannya untuk menyebarkan hal-hal buruk dan selalu berorientasi kepada nilai-nilai baik manusia sebagai tujuannya.

Oleh karena itu kita harus pandai memanfaatkan  teknologi baru dan harus bertanggungjawab dalam menggunakannya. Terkait dengan hal ini, tugas orang tua dan guru untuk membuat  anak-anak tahu mengenai  sejumlah tindakan, aturan dan  akibatnya. Bagaimana caranya?

Guru dapat mengedukasi peserta didik tentang berliterasi digital ketika pembelajaran sedang berlangsung di kelas dan  diintegrasikan dengan mata pelajaran.

Menanggapi salah satu pertanyaan dari peserta, narasumber menjelaskan bahwa menyikapi segi positif dan negatif penggunaan teknologi kita harus membangun paradigma berpikir kritis dengan cara membangun pertanyaan 5W+1H.  “Siapa” Yang memberikan informasi, “Apa” yang dikatakan, “Dimana” Hal itu terjadi,  “Kapan” hal itu dikatakan, “Mengapa” dan “Bagaimana”.

 Terakhir, narasumber memberikan pernyataan: "Marilah kita bersama-sama memanfaatkan era digital  dengan bebas namun sesuai dengan kita. Pilih yang cocok, positif dengan etika yang baik serta penuh tanggungjawab".













Mengekspresikan Diri yang Baik di Media Sosial

Jumat, 26 November 2021

Judul               : Pelatihan Guru Motivator Literasi Digital (GMLD)

Grup               : 4

Resume ke     : 12

Tema              : Mengekspresikan Diri yang Baik di Media Sosial

Nara Sumber : Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd.

Moderator     :  Dail Ma'ruf





    Setelah Pak Dail selaku moderator pada pertemuan ini membuka acara, Bunda Kanjeng, panggilan akrab narasumber, mulai menyampaikan materi setelah sebelumnya menyapa peserta GMLD dengan sangat ramah. 

    Dewasa ini,  dunia digital tidak asing lagi bagi hampir semua orang, salah satunya media sosial. Ada banyak media sosial yang menawarkan berbagai kemudahan dalam berkomunikasi, berinteraksi, dan memperoleh informasi. Sering  kita temui seseorang yang mempunyai lebih dari satu media sosial dan asyik tenggelam dalam media sosial. Atau mungkin kita sendiri termasuk ke dalam kalangan asyik dengan dunia sendiri  juga? Hehe.    

  Tapi ada satu hal yang harus kita pahami, bahwa bermedia sosial juga mempunyai aturan dan etika karena seyogyanya kita harus bermedia sosial dengan baik dan bertanggung jawab.

    Dalam kesempatan ini bunda Kanjeng mengajak kita sebagai guru harus bijak dalam bermedia sosial dan harus memahami etika berliterasi digital atau bermedia sosial. Misalnya dalam menerima dan menyebarkan informasi, kita jangan menelannya bulat-bulat atau menyebarkan informasi tanpa mengetahui kebenaran informasi tersebut, jangan lansung percaya begitu saja. Selain itu, kita juga jangan asal memposting sesuatu dan hati-hati dalam memberikan komentar. Sikap saling menghargai dan sopan santun harus dikedepankan. Kita juga tidak perlu memposting informasi pribadi secara rinci dan selalu waspada serta memfilter akun yang diikuti.

    Selanjutnya sebagai guru, sudah seharusnya kita mengedukasi dan mengarahkan siswa dalam berselancar di dunia digital terutama mengenai etika bermedia sosial ini. Hal ini sangat diperlukan agar siswa kita yang aktif menggunakan media sosial tidak asal dalam memposting foto, kegiatan ataupun konten di sosmednya. Dengan begitu siswa yang menjadikan sosmed sebagai tempat favorit untuk mengekspresikan diri dapat terus dalam koridor kebaikan dan dalam konteks positif.

    Saat diskusi, Bunda Kanjeng menyarankan untuk menghindari segala macam bentuk penipuan baik melalui pesan WA atau lainnya. Untuk itu, penting sekali untuk kita semua menjadi pribadi yang pandai dalam menyaring informasi di media sosial, selektif dalam memilih konten dan hanya memfollow teman dekat atau yang dapat dipercaya.

Semoga kita semua dapat bermedia sosial dengan baik dan bijak. Aamiin.

Rabu, 08 Desember 2021

Menjelajahi Alam Digital yang Luas

 Rabu, 1 Desember 2021

Judul : Pelatihan Guru Motivator Literasi Digital

Grup : 4

Resume ke : 14

Tema : Menjelajahi Alam Digital yang Luas

Narasumber : Maesaroh, M. Pd

Moderator : Ms. Phia


Diakui atau tidak, hampir semua insan di zaman sekarang adalah si Bolang dumay. Alias peselancar atau penjelajah  di dunia maya.

Namun, bergaul luas di dunia maya tanpa berliterasi akan memperbesar kemungkinan  gampang jadi penyebar informasi hoak.

Menjelajah alam digital/alam maya adalah sebuah alam yang memberi koneksi antara satu individu dengan individu lainnya (jauh menjadi dekat) lewat kecanggihan sebuah teknologi.

Menjelajahi dunia digital tentu perlu kecakapan, agar kita mampu memiliki wawasan yang luas. Tak hanya luas dalam menjelajahi dunia maya saja. Tetapi juga luas secara intelektual.

Media sosial yang kental dengan kehidupan masyarakat saat ini, menunjukkan bahwa animo masyarakat terhadap kebutuhan informasi juga meningkat. Sebenarnya hal ini merupakan hal yang baik. Sayangnya, karena media sosial merupakan salah satu arena untuk menyebarkan informasi, maka ada banyak informasi yang simpang siur.

 Untuk mengembangkan budaya literasi generasi penerus bangsa, di perlukan kecakapan dalam menggunakan media digital dengan beretika dan bertanggung jawab agar mendapatkan informasi yang akurat dan akuntabel. Cerdas bermedia sosial berarti cerdas berliterasi. Dan perlu edukasi yang massif dalam menggerakan literasi digital agar setiap individu mudah memahami informasi dengan benar.

Ada 4 Pilar dalam mengembangkan Literasi Digital, yaitu:

1. Digital Culture, cakap  bermedia digital dengan memanfaatkan media digital sebagai alat untuk menghubungkan satu koneksi menuju seluruh dunia.

2. Digital Safety, cakap dalam melindungi diri dan aset digital ketika sedang berada di dunia digital.

3. Digital Ethics, etis dalam menggunakan dunia digital dengan tidak mengalahgunakan alat digital sebagai penyebar informasi hoaks.

4. Digital Skill, cakap secara tehnologi dalam menggunakan piranti digital sebagai alat untuk meng up grade pengetahuan.

 Tak jarang ketika gurunya belum mengerti sebuah aplikasi, tetapi muridnya sudah mahir menggunakan aplikasi tersebut di media sosial. Ini mengisyaratkan guru harus mengupgrade ilmunya.

Pemahaman literasi digital yang buruk akan berpengaruh pada dampak psikologis anak dan remaja, sehingga timbul sikap cenderung menghina orang lain, menimbulkan sikap iri terhadap orang lain, mengakibatkan depresi, terbawa arus suasana hati terhadap komentar negatif, serta terbiasa berbicara dengan bahasa kurang sopan. Hal inilah yang menyebabkan dampak buruk dalam berinteraksi. 

 Itulah sebabnya mengapa begitu penting bagi kita untuk menggaungkan literasi digital terhadap anak didik kita ataupun masyarakat di lingkungan kita.   

Namun, terkadang  apabila penggunaan piranti digital terlampau tinggi, maka pengguna akan cenderung mengalami  Digital Fatigue.

 Ciri-ciri Digital Fatigue:

1. Munculnya perasaan lelah, bosan, malas, dengan berbagai kegiatan digital seperti zoom meeting, webinar, media sosial, dan berbagai platform digital lain.

2. Mata terasa sakit, lelah, dan perih.

3. Sakit kepala dan migrain.

4. Nyeri otot leher, bahu, atau punggung.

5. Sensitif terhadap cahaya.

6. Gangguan pada fokus, konsentrasi, dan memori.

7. Merasa putus asa dan tidak berdaya.

8. Kewalahan menghadapi situasi yang berulang.

9. Badan terasa lemah, lesu, tidak bertenaga, dan malas bergerak.

10. Muncul perilaku yang aneh dan tidak wajar. 

Mungkin ini bagian dari Mind Block di dunia digital yaa, imbuh moderator.  

Tips memulihkan kondisi digital fatigue, dijawab narasumber, dengan melakukan managemen waktu yang baik. Berselancar di media sosial sesuai kebutuhan dan kepentingan saja. Bila perlu, dibuat skala prioritas.

Narasumber menambahkan  tips dalam penjelasannya mengenai edukasi berliterasi yang bisa dilakukan. Pertama, kita buat sebuah story di media sosial kita tentang refleksi pembelajaran, jika bisa, boleh ditambah dengan foto-foto kegiatan mereka. Setelah itu kita tag mereka. Dengan begitu lama kelamaan mereka secara tak sadar sudah terjun dalam literasi media.

Langkah kedua, bisa kita berikan tantangan kepada mereka untuk membuat story di sosial media terkait refleksi pembelajaran dan tag teman-temannya beserta akun kita sebagai pengajar. Dengan kata lain kita juga berteman dengan akun siswa di media sosial.

Dari situ, kita bisa memantau aktivitas anak/siswa di dunia maya. Meskipun, ada saja anak yang membatasi sosial medianya, memprivasi agar tak dilihat oleh guru. 

Ketiga, saya mengintip tingkah mereka melalui akun temannya, yang memang kita dekati  sebagai target literasi media. Jadi saya membuat sebuah komunitas di sekolah yang dari mereka saya berikan arahan untuk be aware dalam bermedia sosial. Dari komunitas ini lahir informasi- informasi yang memantik edukasi, pungkas narasumber. 

Benar -benar guru yang bermain cantik yaa..

Selasa, 07 Desember 2021

Membangun Digital Space yang Aman untuk Anak

 Senin, 1 November 2021

Pelatihan: Guru Motivator Literasi Digital (GMLD)

Grup : 4

Resume : 1

Tema : Membangun Digital Space yang Aman untuk Anak

Narasumber : Wijaya Kusuma, S. Pd., M. Pd

Moderator : Dail Ma'ruf, M. Pd


Sebagaimana telah kita maklumi bersama, internet memiliki dua sisi mata uang.

Saat kita bisa mengambil manfaat maksimal darinya, disitulah internet memiliki sisi positif. Namun, bila kemudian muncul sikap yang kurang baik, disitulah sisi negatifnya berperan dominan. 

Kita mengharapkan sisi positiflah yang berkembang, namun sisi negatif selalu mengintai. Mungkin kita sebagai orang dewasa, bisa agak memahami dan meminimalisir efek negatif, namun bagaimanakah dengan buah hati kita di rumah, siswa kita di sekolah?

Inilah titik, dimana ruang aman berinternet bagi anak sangat penting. Lalu, bagaimana kita membangunnya? Bagaimana meminimalkan efek negatif dan apa yang harus dilakukan apabila efek negatif internet menghantam tepat di muka?

Dalam paparannya narasumber mengemukakan dengan cukup mendetail dan menenangkan. Yaah, setidaknya bagi saya yang juga memiliki anak, bisa agak membuat adem hati.

Pertama kita mengajak anak untuk memahami perkembangan dunia digital yang terus berkembang

Kedua kita  harus memahami psikologi anak dan perkembangannya dalam dunia digital

Ketiga, Kita harus menyadarkan anak tentang apa saja resiko kejahatan pada anak dan 

keempat bagaimana cara aman dan nyaman berinternet bersama keluarga tercinta

Paparan narasumber semakin menarik, karena saat pandemi  covid seperti sekarang, kedekatan anak pada gadget tampaknya lebih dekat daripada ke ayah bundanya. Gimana cara memberikan kesadarannya?

Anak-anak kita adalah anak-anak kelompok yang rentan terhadap berbagai kejahatan digital. Tidak semua orang dalam dunia digital kita adalah orang baik. 

Salah satunya adalah jangan biarkan anak-anak kita mengumbar data pribadi di media digital atau media sosial.

Ketidaktahuan dan ketidakmampuan menggunakan media digital dengan baik dan benar, membuat mereka menjadi korban kejahatan media digital. jangankan anak-anak, bahkan banyak juga orang dewasa yang menjadi korbannya.

Saat ini, telah terekspos konten pornografi yang muncul tidak dengan sengaja saat anak mengakses media sosial. Orang tua dan guru harus mampu menjadi pemandu buat anak dan peserta didiknya.

Banyak orang saat ini tidak memahami bahkan tidak peduli akan bahaya yang dapat mengancam anak-anak kita. Itulah mengapa kami membuka kelas GMLD, walaupun kominfo juga telah melaksanakan berbagai webinar literasi digital secara masif di setiap kota dan kabupaten setiap hari di internet, tambah narasumber.

Kita terkadang dengan mudah saling berbagi informasi termasuk data yang sifatnya pribadi kepada orang yang baru dikenal. Akibatnya data privasi dapat disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Apalagi bila mereka masih anak-anak.

data privasi kita dengan mudah diperjual belikan oleh mereka yang tdk bertanggung jawab di media digital



Dari hasil survey Google bersama Trust dan Safety research pada bulan Februari 2021, ada 51 % orang tua di Indonesia merasa khawatir tentang keamanan digital anak. Bahkan ada 42 % orangtua mengkhawatirkan 3 hal yaitu keamanan informasi anak, anak-anak menerima konten yang tidak pantas dan anak-anak menerima perhatian dari orang yang tidak dikenalnya.

Resiko kejahatan di ruang digital pada anak yang sering terjadi adalah kecanduan games, cyberbully, pelanggaran privasi, kejahatan seksual dan lain-lain yang bisa kita baca di media sosial

Kasus Jabar dalam https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4747446/ratusan-anak-di-jabar-masuk-rs-jiwa-karena-kecanduan-ponsel-ini-gejalanya merupakan satu kasus, baru dalam satu provinsi. Bagaimana dengan provinsi lainnya. Ini fenomena gunung es, yang sangat ingin kita hindari. 

hal yang lebih menyeramkan adalah Grooming, kasus pelecehan seksual pada anak dengan modus iming iming PDKT, dan Kasus grooming pada anak mulai banyak ditemukan sejak tahun 2019 dan terus bertambah setiap tahunnya. Kita sebagai orang tua dan juga guru harus mulai waspada dan belajar tentang literasi digital.

Dalam berdigital, sebaiknya kita mulai bersikap:

• Smart, tidak menyebarkan informasi sensitif seperti nomor telepon, passport/KTP, password dan alamat rumah

• Alert, jangan mudah percaya dengan hal yang tidak masuk akal, jauhi phising dengan tidak meng-klik link sembarangan.

• Strong, gunakan password yang sulit agar tidak mudah diretas baik untuk akun maupun gawai, biasakan menggunakan two step authentication

• Kind, sadari aktivitas online yang kita lakukan, untuk mencegah terbentuknya rekam jejak yang membuat kita rawan jadi target kejahatan digital.

• Brave, mengenali dan mencegah bentuk-bentuk kejahatan di ruang digital.

Narasumber menambahkan contoh kasus, apabila kita sedang menggunakan internet secara online, entah seputar pelajaran dengan siswa, atau mungkin sedang nonton bersama ananda di rumah, tiba-tiba konten pornografi muncul, kita supaya tetap rileks dan jangan panik, sampaikan kepada mereka bahwa dunia digital begitu terbuka, kita harus waspada jangan sampai terpapar pornografi. Yang demikian belum boleh, tidak boleh karena tidak sesuai norma agama.

Kesimpulan: 

 • Orang tua harus sebagai rule model

• Dampingi anak saat mengakses internet

• Batasi waktu atau durasi penggunaan gadget

• Diskusikan tentang resiko atau dampak buruk dari penggunaan gadget yang berlebihan

• Risiko kejahatan ruang digital bisa diatasi dengan kecakapan literasi digital

• Tidak hanya orang dewasa, anak-anak juga harus lebih cermat dan bijak dalam ruang digital

Semoga kita semua dilindungi-Nya dari segala arah. Aamiin.

Pengembangan Kualitas Hidup Melalui Program Literasi Digital

 Rabu, 15 Desember 2021 Judul : Pelatihan Guru Motivator Literasi Digital (GMLD) Grup : 4 Resume ke : 20 Tema : Pengembangan Kualitas Hidup ...