Selasa, 25 Januari 2022

Berbincang dengan Hoaks, Media Sosial dan Dunia Digital

 Senin, 29 November 2021

Judul : Pelatihan Guru Motivator Literasi Digital (GMLD)

Grup : 4

Resume ke : 13

Tema : Berbincang dengan Hoaks, Media Sosial dan Dunia Digital.

Narasumber : Aam Nurhasanah

Moderator : Dail Ma'ruf


 Hoaks.. oh hoaks..kehadirannya sungguh  tidak diharapkan, karena biasanya manis, eh ternyata bohongan..biasanya menjanjikan asa, eh di php-in. Nyebelin kan?

Adakah yang pernah kena hoaks? Atau mungkin tak sengaja pernah jadi pelaku hoaks? Tahu, apa yang harus kita lakukan saat hoaks menyapa? Narasumber kali ini, membahas tema tersebut dengan cukup menggelitik.

Semoga kita dijauhkan dari perilaku di-hoaks-in atau meng- hoaks-kan tersebut ya, karena hoaks jarang sekali yang membawa kebahagiaan.. kenapa disebut jarang? Karena memang hanya sedikit jumlahnya. Dan saya beruntung, pernah menyaksikan salah satu dari sedikit hoaks yang menghibur. Itu terjadi saat narasumber menyajikan tayangan mengenai info penyanyi legendaris yang kabarnya memiliki kembaran..dan ternyata sang kembaran adalah narasumber kali ini.  Saya terkekeh-kekeh melihat tayangan tersebut...

Kembali ke bahasan awal,  hoaks adalah berita bohong atau berita yang sesungguhnya harus diverifikasi kebenarannya. Jangan langsung percaya dan meng-share jika infonya belum valid.

Seiring perkembangan zaman, media sosial dan dunia digital adalah makanan empuk untuk menyebarkan hoax.

Sekarang, banyak orang yang justru ahli menyalah gunakan medsos untuk kepentingan yang tidak bertanggung jawab. Miris sekali ya.

Apa trik agar kita tidak terjerat perangkat hoax di media sosial? 

Intinya adalah menggunakan medsos dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat. 

Lalu bagaimana cara mengetahui/mengenali kalau berita yang kita terima tersebut adalah hoaks?

Ciri-ciri hoax bisa dikenali, diantaranya: 

1. Menciptakan kecemasan, kebencian, permusuhan.

2. Sumber tidak jelas dan tidak ada yang bisa dimintai tanggung jawab atau klarifikasi.

3. Pesan sepihak, menyerang, dan tidak netral atau berat sebelah.

4. Mencatut nama tokoh berpengaruh atau pakai nama mirip media terkenal.

5. Memanfaatkan fanatisme atas nama ideologi, agama, suara rakyat.

6. Judul dan pengantarnya provokatif dan tidak cocok dengan isinya.

7. Memberi penjulukan.

8. Minta supaya di-share atau diviralkan.

9. Menggunakan argumen dan data yang sangat teknis supaya terlihat ilmiah dan dipercaya.

10. Artikel yang ditulis biasanya menyembunyikan fakta dan data serta memelintir pernyataan narasumbernya.

11. Berita ini biasanya ditulis oleh media abal-abal, di mana alamat media dan penanggung jawab tidak jelas.

12. Memanipulasi foto dan keterangannya. Foto-foto yang digunakan biasanya sudah lama dan berasal dari kejadian di tempat lain dan keterangannya juga dimanipulasi.

Narasumber menambahkan, apabila ada yang menyebarkan hoak di grup, yang perlu dilakukan adalah kita memberi tahu bahwa itu hoaks dan jangan diteruskan ke orang lain. Takutnya, orang yang menerima pesan karena ketidak tahuannya akan meneruskan pesan tersebut ke pihak lain. Jadi kita wajib saling mengingatkan.

 Namun, jika saya kebetulan sebagai admin,  orangnya tidak dikenal dan mencurigakan, biasanya langsung saya keluarkan, imbuhnya.

Dari paparan narasumber, dapat kita simpulkan, bahwa kita harus lebih cakap dan cerdas di era digital ini.  Membagikan ilmu yang memotivasi, menebar energi positif, dan menginspirasi, itu jauh  lebih bijak dan mulia, bukan?  Setuju? 


Jumat, 21 Januari 2022

Era Teknologi Bebas Namun Tanggungjawab

Senin, 13 Desember 2021

Judul               : Pelatihan Guru Motivator Literasi Digital (GMLD)

Grup               : 4

Resume ke     : 19

Tema             : Era Teknologi Bebas Namun Tanggungjawab

Nara Sumber : Rifatun

Moderator     : Rosminiyati


                                       


Kak Ros sebagai moderator pada pertemuan ini membuka acara dengan menyapa hangat peserta dan menjelaskan agenda pertemuan.

Selanjutnya, beliau mengingkatkan kami kembali mengenai syarat memperoleh sertifikat LULUS dalam Pelatihan GMLD, sebagai berikut:
1. Minimal mengikuti 16 materi dari 20 materi yang diberikan di kelas Guru Motivator Literasi Digital (GMLD) yang dibuktikan dengan daftar hadir yang tersedia di deskripsi grup WA GMLD.
2. Menulis resume di blog pribadi minimal 16 resume materi yang diberikan narasumber dari 20 materi yang dibuktikan dengan mengisi form pengumpulan resume.
3.  Menulis minimal 1buku antologi yang dibuktikan dengan namanya tercantum pada daftar penulis buku tersebut (peserta akan mendapatkan sertifikat penulis dari penerbit).

Penjelasan kak Ros ini menyadarkan kami bahwa sekarang kami sudah diujung perjalanan pelatihan GMLD, pertemuan ke 19. Kami harus flashback lagi dengan tugas-tugas yang harus kami selesaikan agar lulus. Sayangkan jika sudah mengikuti, namun terhenti begitu saja.

Pada pertemuan ini, kak Ros menjadi moderator dari narasumber luar biasa yang tidak muda lagi tetapi semangat belajarnya luar biasa, dengan segudang pengalaman dan prestasi, juga berdedikasi tinggi dalam kegiatan belajar PGRI. Beliau adalah Bu Rifatun.

Narasumber menyapa peserta dengan ramah, kemudian menyampaikan materi yang diawali dengan pertanyaan "apakah yang dimaksud dengan Era Teknologi?"

Dengan aktifnya peserta menjawab, diantaranya:

👉Era digital adalah suatu zaman dimana kegiatan atau aktivitas di lakukan dengan menggunakan media digital

👉Jaman yang serba digital ,contoh kita bisa berada taksi dengan ada aplikasi online,bagi guru yang sudah mempunyai dan menguasai laptop , HP bisa menggunakannya dengan maksimal , mengikuti tuntunan zaman moderen, zaman 4.0

Setelah mengapresiasi jawaban peserta, narasumber menghadiahkan salah satu peserta dengan jawaban terbaik sebuah buku karya beliau.

Kemudian beliau melanjutkan penjelasannya bahwa teknologi dari tahun ke tahun mengalami perkembangan. Perkembangan teknologi terbaru, termasuk di antaranya mesin cetak, telepon, dan Internet, telah memperkecil hambatan fisik terhadap komunikasi dan memungkinkan manusia untuk berinteraksi secara bebas dalam skala global.

Teknologi telah memengaruhi masyarakat dan sekeliling kita. Berbagai macam penerapan teknologi telah memengaruhi nilai suatu masyarakat dan teknologi baru sering kali mencuatkan pertanyaan-pertanyaan etika baru. Sebagai contoh: meluasnya gagasan tentang efisiensi dalam konteks produktivitas manusia, suatu istilah yang pada awalnya hanya menyangkut permesinan. Dengan adanya teknologi kita bebas menggunakannya. Bagaimana cara kita menggunakan teknologi yang bebas ini ?

Kembali narasumber mengajukan pertanyaan ini kepada peserta. Dari respon peserta dapat disimpulkan bahwa menggunakan teknologi haruslah dengan bijak, smart, disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan seperti seorang guru yang menggunakan infokus pada saat mengajar, agar materi yg begitu luas dapat terjangkau semua siswa dan membuat pembelajaran menjadi menarik. Hal lain yang juga tidak kalah penting dalam menggunakan teknologi adalah menghindari dampak negatif dari teknologi dan harus bertanggungjawab.

Narasumber  juga menambahkan beberapa pemanfaatan teknologi dalam dunia pendidikan  antara lain:

1.    Membantu untuk mengelola prioritas

2.    Komunikasi yang lebih baik

3.    Menggunakan cara yang berbeda untuk pendidikan

4.    Memanfaatkan teknologi tepat waktu

Selain 4 cara diatas, pemanfaatan teknologi bagi siswa membuat kegiatan belajar  menjadi lebih mudah, seperti:
1.    Kamus online untuk mempelajari bahasa asing
2.    Menonton video pembelajaran di situs video sharing
3.    Memakai aplikasi untuk penunjang kegiatan belajar
4.    Manfaatkan website penyedia materi pelajaran
5.    Gunakan fitur yang ada di smartphone

Berkaitan dengan penggunaan teknologi yang bebas namun bertangung jawab maksudnya kita mempunyai kesempatan seluas-luasnya untuk memanfaatkan teknologi untuk kepentingan kita misalnya sebagai seorang guru kita bisa bebas mencari bahan ajar untuk kita ajarkan kepada anak didik kita. Bentuk bertanggung jawab dari kita adalah tidak menggunakannya untuk menyebarkan hal-hal buruk dan selalu berorientasi kepada nilai-nilai baik manusia sebagai tujuannya.

Oleh karena itu kita harus pandai memanfaatkan  teknologi baru dan harus bertanggungjawab dalam menggunakannya. Terkait dengan hal ini, tugas orang tua dan guru untuk membuat  anak-anak tahu mengenai  sejumlah tindakan, aturan dan  akibatnya. Bagaimana caranya?

Guru dapat mengedukasi peserta didik tentang berliterasi digital ketika pembelajaran sedang berlangsung di kelas dan  diintegrasikan dengan mata pelajaran.

Menanggapi salah satu pertanyaan dari peserta, narasumber menjelaskan bahwa menyikapi segi positif dan negatif penggunaan teknologi kita harus membangun paradigma berpikir kritis dengan cara membangun pertanyaan 5W+1H.  “Siapa” Yang memberikan informasi, “Apa” yang dikatakan, “Dimana” Hal itu terjadi,  “Kapan” hal itu dikatakan, “Mengapa” dan “Bagaimana”.

 Terakhir, narasumber memberikan pernyataan: "Marilah kita bersama-sama memanfaatkan era digital  dengan bebas namun sesuai dengan kita. Pilih yang cocok, positif dengan etika yang baik serta penuh tanggungjawab".













Mengekspresikan Diri yang Baik di Media Sosial

Jumat, 26 November 2021

Judul               : Pelatihan Guru Motivator Literasi Digital (GMLD)

Grup               : 4

Resume ke     : 12

Tema              : Mengekspresikan Diri yang Baik di Media Sosial

Nara Sumber : Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd.

Moderator     :  Dail Ma'ruf





    Setelah Pak Dail selaku moderator pada pertemuan ini membuka acara, Bunda Kanjeng, panggilan akrab narasumber, mulai menyampaikan materi setelah sebelumnya menyapa peserta GMLD dengan sangat ramah. 

    Dewasa ini,  dunia digital tidak asing lagi bagi hampir semua orang, salah satunya media sosial. Ada banyak media sosial yang menawarkan berbagai kemudahan dalam berkomunikasi, berinteraksi, dan memperoleh informasi. Sering  kita temui seseorang yang mempunyai lebih dari satu media sosial dan asyik tenggelam dalam media sosial. Atau mungkin kita sendiri termasuk ke dalam kalangan asyik dengan dunia sendiri  juga? Hehe.    

  Tapi ada satu hal yang harus kita pahami, bahwa bermedia sosial juga mempunyai aturan dan etika karena seyogyanya kita harus bermedia sosial dengan baik dan bertanggung jawab.

    Dalam kesempatan ini bunda Kanjeng mengajak kita sebagai guru harus bijak dalam bermedia sosial dan harus memahami etika berliterasi digital atau bermedia sosial. Misalnya dalam menerima dan menyebarkan informasi, kita jangan menelannya bulat-bulat atau menyebarkan informasi tanpa mengetahui kebenaran informasi tersebut, jangan lansung percaya begitu saja. Selain itu, kita juga jangan asal memposting sesuatu dan hati-hati dalam memberikan komentar. Sikap saling menghargai dan sopan santun harus dikedepankan. Kita juga tidak perlu memposting informasi pribadi secara rinci dan selalu waspada serta memfilter akun yang diikuti.

    Selanjutnya sebagai guru, sudah seharusnya kita mengedukasi dan mengarahkan siswa dalam berselancar di dunia digital terutama mengenai etika bermedia sosial ini. Hal ini sangat diperlukan agar siswa kita yang aktif menggunakan media sosial tidak asal dalam memposting foto, kegiatan ataupun konten di sosmednya. Dengan begitu siswa yang menjadikan sosmed sebagai tempat favorit untuk mengekspresikan diri dapat terus dalam koridor kebaikan dan dalam konteks positif.

    Saat diskusi, Bunda Kanjeng menyarankan untuk menghindari segala macam bentuk penipuan baik melalui pesan WA atau lainnya. Untuk itu, penting sekali untuk kita semua menjadi pribadi yang pandai dalam menyaring informasi di media sosial, selektif dalam memilih konten dan hanya memfollow teman dekat atau yang dapat dipercaya.

Semoga kita semua dapat bermedia sosial dengan baik dan bijak. Aamiin.

Pengembangan Kualitas Hidup Melalui Program Literasi Digital

 Rabu, 15 Desember 2021 Judul : Pelatihan Guru Motivator Literasi Digital (GMLD) Grup : 4 Resume ke : 20 Tema : Pengembangan Kualitas Hidup ...