Rabu, 08 Desember 2021

Menjelajahi Alam Digital yang Luas

 Rabu, 1 Desember 2021

Judul : Pelatihan Guru Motivator Literasi Digital

Grup : 4

Resume ke : 14

Tema : Menjelajahi Alam Digital yang Luas

Narasumber : Maesaroh, M. Pd

Moderator : Ms. Phia


Diakui atau tidak, hampir semua insan di zaman sekarang adalah si Bolang dumay. Alias peselancar atau penjelajah  di dunia maya.

Namun, bergaul luas di dunia maya tanpa berliterasi akan memperbesar kemungkinan  gampang jadi penyebar informasi hoak.

Menjelajah alam digital/alam maya adalah sebuah alam yang memberi koneksi antara satu individu dengan individu lainnya (jauh menjadi dekat) lewat kecanggihan sebuah teknologi.

Menjelajahi dunia digital tentu perlu kecakapan, agar kita mampu memiliki wawasan yang luas. Tak hanya luas dalam menjelajahi dunia maya saja. Tetapi juga luas secara intelektual.

Media sosial yang kental dengan kehidupan masyarakat saat ini, menunjukkan bahwa animo masyarakat terhadap kebutuhan informasi juga meningkat. Sebenarnya hal ini merupakan hal yang baik. Sayangnya, karena media sosial merupakan salah satu arena untuk menyebarkan informasi, maka ada banyak informasi yang simpang siur.

 Untuk mengembangkan budaya literasi generasi penerus bangsa, di perlukan kecakapan dalam menggunakan media digital dengan beretika dan bertanggung jawab agar mendapatkan informasi yang akurat dan akuntabel. Cerdas bermedia sosial berarti cerdas berliterasi. Dan perlu edukasi yang massif dalam menggerakan literasi digital agar setiap individu mudah memahami informasi dengan benar.

Ada 4 Pilar dalam mengembangkan Literasi Digital, yaitu:

1. Digital Culture, cakap  bermedia digital dengan memanfaatkan media digital sebagai alat untuk menghubungkan satu koneksi menuju seluruh dunia.

2. Digital Safety, cakap dalam melindungi diri dan aset digital ketika sedang berada di dunia digital.

3. Digital Ethics, etis dalam menggunakan dunia digital dengan tidak mengalahgunakan alat digital sebagai penyebar informasi hoaks.

4. Digital Skill, cakap secara tehnologi dalam menggunakan piranti digital sebagai alat untuk meng up grade pengetahuan.

 Tak jarang ketika gurunya belum mengerti sebuah aplikasi, tetapi muridnya sudah mahir menggunakan aplikasi tersebut di media sosial. Ini mengisyaratkan guru harus mengupgrade ilmunya.

Pemahaman literasi digital yang buruk akan berpengaruh pada dampak psikologis anak dan remaja, sehingga timbul sikap cenderung menghina orang lain, menimbulkan sikap iri terhadap orang lain, mengakibatkan depresi, terbawa arus suasana hati terhadap komentar negatif, serta terbiasa berbicara dengan bahasa kurang sopan. Hal inilah yang menyebabkan dampak buruk dalam berinteraksi. 

 Itulah sebabnya mengapa begitu penting bagi kita untuk menggaungkan literasi digital terhadap anak didik kita ataupun masyarakat di lingkungan kita.   

Namun, terkadang  apabila penggunaan piranti digital terlampau tinggi, maka pengguna akan cenderung mengalami  Digital Fatigue.

 Ciri-ciri Digital Fatigue:

1. Munculnya perasaan lelah, bosan, malas, dengan berbagai kegiatan digital seperti zoom meeting, webinar, media sosial, dan berbagai platform digital lain.

2. Mata terasa sakit, lelah, dan perih.

3. Sakit kepala dan migrain.

4. Nyeri otot leher, bahu, atau punggung.

5. Sensitif terhadap cahaya.

6. Gangguan pada fokus, konsentrasi, dan memori.

7. Merasa putus asa dan tidak berdaya.

8. Kewalahan menghadapi situasi yang berulang.

9. Badan terasa lemah, lesu, tidak bertenaga, dan malas bergerak.

10. Muncul perilaku yang aneh dan tidak wajar. 

Mungkin ini bagian dari Mind Block di dunia digital yaa, imbuh moderator.  

Tips memulihkan kondisi digital fatigue, dijawab narasumber, dengan melakukan managemen waktu yang baik. Berselancar di media sosial sesuai kebutuhan dan kepentingan saja. Bila perlu, dibuat skala prioritas.

Narasumber menambahkan  tips dalam penjelasannya mengenai edukasi berliterasi yang bisa dilakukan. Pertama, kita buat sebuah story di media sosial kita tentang refleksi pembelajaran, jika bisa, boleh ditambah dengan foto-foto kegiatan mereka. Setelah itu kita tag mereka. Dengan begitu lama kelamaan mereka secara tak sadar sudah terjun dalam literasi media.

Langkah kedua, bisa kita berikan tantangan kepada mereka untuk membuat story di sosial media terkait refleksi pembelajaran dan tag teman-temannya beserta akun kita sebagai pengajar. Dengan kata lain kita juga berteman dengan akun siswa di media sosial.

Dari situ, kita bisa memantau aktivitas anak/siswa di dunia maya. Meskipun, ada saja anak yang membatasi sosial medianya, memprivasi agar tak dilihat oleh guru. 

Ketiga, saya mengintip tingkah mereka melalui akun temannya, yang memang kita dekati  sebagai target literasi media. Jadi saya membuat sebuah komunitas di sekolah yang dari mereka saya berikan arahan untuk be aware dalam bermedia sosial. Dari komunitas ini lahir informasi- informasi yang memantik edukasi, pungkas narasumber. 

Benar -benar guru yang bermain cantik yaa..

Selasa, 07 Desember 2021

Membangun Digital Space yang Aman untuk Anak

 Senin, 1 November 2021

Pelatihan: Guru Motivator Literasi Digital (GMLD)

Grup : 4

Resume : 1

Tema : Membangun Digital Space yang Aman untuk Anak

Narasumber : Wijaya Kusuma, S. Pd., M. Pd

Moderator : Dail Ma'ruf, M. Pd


Sebagaimana telah kita maklumi bersama, internet memiliki dua sisi mata uang.

Saat kita bisa mengambil manfaat maksimal darinya, disitulah internet memiliki sisi positif. Namun, bila kemudian muncul sikap yang kurang baik, disitulah sisi negatifnya berperan dominan. 

Kita mengharapkan sisi positiflah yang berkembang, namun sisi negatif selalu mengintai. Mungkin kita sebagai orang dewasa, bisa agak memahami dan meminimalisir efek negatif, namun bagaimanakah dengan buah hati kita di rumah, siswa kita di sekolah?

Inilah titik, dimana ruang aman berinternet bagi anak sangat penting. Lalu, bagaimana kita membangunnya? Bagaimana meminimalkan efek negatif dan apa yang harus dilakukan apabila efek negatif internet menghantam tepat di muka?

Dalam paparannya narasumber mengemukakan dengan cukup mendetail dan menenangkan. Yaah, setidaknya bagi saya yang juga memiliki anak, bisa agak membuat adem hati.

Pertama kita mengajak anak untuk memahami perkembangan dunia digital yang terus berkembang

Kedua kita  harus memahami psikologi anak dan perkembangannya dalam dunia digital

Ketiga, Kita harus menyadarkan anak tentang apa saja resiko kejahatan pada anak dan 

keempat bagaimana cara aman dan nyaman berinternet bersama keluarga tercinta

Paparan narasumber semakin menarik, karena saat pandemi  covid seperti sekarang, kedekatan anak pada gadget tampaknya lebih dekat daripada ke ayah bundanya. Gimana cara memberikan kesadarannya?

Anak-anak kita adalah anak-anak kelompok yang rentan terhadap berbagai kejahatan digital. Tidak semua orang dalam dunia digital kita adalah orang baik. 

Salah satunya adalah jangan biarkan anak-anak kita mengumbar data pribadi di media digital atau media sosial.

Ketidaktahuan dan ketidakmampuan menggunakan media digital dengan baik dan benar, membuat mereka menjadi korban kejahatan media digital. jangankan anak-anak, bahkan banyak juga orang dewasa yang menjadi korbannya.

Saat ini, telah terekspos konten pornografi yang muncul tidak dengan sengaja saat anak mengakses media sosial. Orang tua dan guru harus mampu menjadi pemandu buat anak dan peserta didiknya.

Banyak orang saat ini tidak memahami bahkan tidak peduli akan bahaya yang dapat mengancam anak-anak kita. Itulah mengapa kami membuka kelas GMLD, walaupun kominfo juga telah melaksanakan berbagai webinar literasi digital secara masif di setiap kota dan kabupaten setiap hari di internet, tambah narasumber.

Kita terkadang dengan mudah saling berbagi informasi termasuk data yang sifatnya pribadi kepada orang yang baru dikenal. Akibatnya data privasi dapat disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Apalagi bila mereka masih anak-anak.

data privasi kita dengan mudah diperjual belikan oleh mereka yang tdk bertanggung jawab di media digital



Dari hasil survey Google bersama Trust dan Safety research pada bulan Februari 2021, ada 51 % orang tua di Indonesia merasa khawatir tentang keamanan digital anak. Bahkan ada 42 % orangtua mengkhawatirkan 3 hal yaitu keamanan informasi anak, anak-anak menerima konten yang tidak pantas dan anak-anak menerima perhatian dari orang yang tidak dikenalnya.

Resiko kejahatan di ruang digital pada anak yang sering terjadi adalah kecanduan games, cyberbully, pelanggaran privasi, kejahatan seksual dan lain-lain yang bisa kita baca di media sosial

Kasus Jabar dalam https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4747446/ratusan-anak-di-jabar-masuk-rs-jiwa-karena-kecanduan-ponsel-ini-gejalanya merupakan satu kasus, baru dalam satu provinsi. Bagaimana dengan provinsi lainnya. Ini fenomena gunung es, yang sangat ingin kita hindari. 

hal yang lebih menyeramkan adalah Grooming, kasus pelecehan seksual pada anak dengan modus iming iming PDKT, dan Kasus grooming pada anak mulai banyak ditemukan sejak tahun 2019 dan terus bertambah setiap tahunnya. Kita sebagai orang tua dan juga guru harus mulai waspada dan belajar tentang literasi digital.

Dalam berdigital, sebaiknya kita mulai bersikap:

• Smart, tidak menyebarkan informasi sensitif seperti nomor telepon, passport/KTP, password dan alamat rumah

• Alert, jangan mudah percaya dengan hal yang tidak masuk akal, jauhi phising dengan tidak meng-klik link sembarangan.

• Strong, gunakan password yang sulit agar tidak mudah diretas baik untuk akun maupun gawai, biasakan menggunakan two step authentication

• Kind, sadari aktivitas online yang kita lakukan, untuk mencegah terbentuknya rekam jejak yang membuat kita rawan jadi target kejahatan digital.

• Brave, mengenali dan mencegah bentuk-bentuk kejahatan di ruang digital.

Narasumber menambahkan contoh kasus, apabila kita sedang menggunakan internet secara online, entah seputar pelajaran dengan siswa, atau mungkin sedang nonton bersama ananda di rumah, tiba-tiba konten pornografi muncul, kita supaya tetap rileks dan jangan panik, sampaikan kepada mereka bahwa dunia digital begitu terbuka, kita harus waspada jangan sampai terpapar pornografi. Yang demikian belum boleh, tidak boleh karena tidak sesuai norma agama.

Kesimpulan: 

 • Orang tua harus sebagai rule model

• Dampingi anak saat mengakses internet

• Batasi waktu atau durasi penggunaan gadget

• Diskusikan tentang resiko atau dampak buruk dari penggunaan gadget yang berlebihan

• Risiko kejahatan ruang digital bisa diatasi dengan kecakapan literasi digital

• Tidak hanya orang dewasa, anak-anak juga harus lebih cermat dan bijak dalam ruang digital

Semoga kita semua dilindungi-Nya dari segala arah. Aamiin.

Bijak dalam Bermedia Sosial

 Senin, 6 Desember 2021

Judul : Pelatihan Guru Motivator Literasi Digital (GMLD)

Grup : 4

Resume : 16

Tema : Bijak dalam Bermedia Sosial

Narasumber : Dail Ma'ruf, M. Pd

Moderator : Muliadi






Makna bijak secara umum diantaranya adalah;

 1. Selalu menggunakan akal budinya; pandai; mahir

2. Pandai bercakap-cakap; petah lidah

3. Adil, menempatkan segala sesuatu pada temaptnya, berdasarkan peruntukannya.

Bisa kita simpulkan bahwa, orang bijak artinya orang yang pandai menempatkan sesuatu sesuai dengan peruntukannya.

Demikian pula dengan bermedia sosial...jika kita ingin disebut bijak maka tempatkan media sosial itu sesuai fungsinya.

Media sosial adalah sebuah media daring yang digunakan satu sama lain yang para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berinteraksi, berbagi, dan menciptakan isi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. 

Kalau kita manfaatkan untuk hal positif maka beribu kebaikan dapat kita raih.


 Media sosial bermanfaat untuk : 

1. menjalin silaturahmi, yang menambah manfaat lainnya, misalnya dapat info, dapat ilmu atau bahkan peluang bisnis

2. menambah relasi, 

3. bisnis, dan 

4. sebagai wadah untuk menunjukkan karya mereka, seperti halnya di grup GMLD ini. Kita bisa belajar menulis yang pada akhirnya menerbitkan buku. Dan bagi saya pribadi, ini adalah sesuatu hal yang menakjubkan sekali. Karena menulis di blog adalah sesuatu yang awalnya sangat asing bagi saya.

Dampak buruk pada media sosial pun ada, namun itu bisa kita minimalisir dengan memposisikan diri sebagai pengguna media sosial yang cerdas. 

Bijak tentu saja bukan ukuran pribadi namun umum. Kalau ibu saya bilangnya bijak itu ukurannya sederhana.  Jika tidak mau dicubit jangan nyubit. jika tak mau disakiti jangan menyakiti, tambah narasumber. Kata- kata yang sederhana namun mengena sekali ya.



Pengembangan Kualitas Hidup Melalui Program Literasi Digital

 Rabu, 15 Desember 2021 Judul : Pelatihan Guru Motivator Literasi Digital (GMLD) Grup : 4 Resume ke : 20 Tema : Pengembangan Kualitas Hidup ...